PALEMBANG — Kompaslink.com
Di tengah padatnya agenda dunia arsitektur dan kewirausahaan, ArDesy Natalie, IAI., C.FT tampil sebagai figur perempuan yang tak hanya menginspirasi, tetapi juga menggerakkan. Dalam wawancara eksklusif di Build Home, Desi sapaan akrabnya menjelaskan pandangannya mengenai makna Hari Ibu serta rencana besar Woman Planner Palembang yang ia pimpin. Kamis (11/12/2025).
Bagi Desi, Hari Ibu bukan hanya tanggal 22 Desember. Ia menegaskan bahwa perayaan itu mestinya terasa setiap hari, lewat perhatian dan rasa syukur terhadap sosok yang membesarkan kita.
“Setiap hari adalah Hari Ibu. Tapi momen 22 Desember itu penting agar kita bisa berhenti sebentar, mengurangi kesibukan, dan kembali menghargai ibu kita,” ujar Desy tegas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di bawah koordinasinya, Woman Planner Palembang kini tengah mempersiapkan peringatan Hari Ibu dengan pendekatan yang lebih esensial. Tak hanya kegiatan simbolis, Desi membawa konsep acara yang memiliki dampak sosial nyata.
Acara tersebut mencakup:
Talkshow ibu dan anak dengan psikolog,
kehadiran Putri Remaja,
fashion show ibu-anak,
serta penggalangan donasi ke beberapa panti asuhan.
Desy menegaskan bahwa peran perempuan, khususnya ibu, harus ditampilkan bukan sekadar dalam acara, tetapi juga melalui kontribusi yang bisa dirasakan masyarakat.
“Menurut saya, seorang pengusaha wanita harus memberi dampak positif. Kegiatan bukan hanya seremoni, tapi bagaimana kita memberi inspirasi dan menjadi berkat bagi orang lain,” ujarnya.
Sebagai ibu dua anak, Desy menyampaikan pandangan mendalam tentang kehadiran seorang ibu.
“Saya tidak selalu ada secara fisik. Tapi saya pastikan saya selalu hadir dalam keputusan, perhatian, dan doa. Itu yang buat anak merasa dicintai,” katanya.
Di tengah tantangan era digital, Desy mengingatkan bahwa ibu masa kini harus lebih sabar, lebih cerdas, dan lebih kuat menghadapi anak-anak yang tumbuh dengan akses informasi luar biasa.
“Kita tidak bisa menjaga anak 24 jam. Tapi kita bisa menjaga mereka lewat doa dan dengan hati yang tetap waras,” ucapnya.
Sebagai pemimpin dan profesional, Desy justru menolak memaksakan kehendak pada anak-anaknya.
“Saya arsitek, tapi saya tidak memaksa mereka jadi arsitek. Anak saya yang laki-laki suka masak, ya saya dukung. Yang penting mereka tumbuh dengan minatnya sendiri,” ucapnya.
Ia bahkan menceritakan satu momen bangga sebagai ibu, ketika anaknya meraih juara 1 lomba menyanyi di Thailand, bukti bahwa kasih ibu tidak selalu harus ditunjukkan dengan kehadiran fisik setiap saat.
Desy juga menyoroti tantangan ibu bekerja, termasuk dirinya, yang harus menyeimbangkan antara karier dan keluarga.
“Kadang saya berangkat anak masih tidur, pulang anak sudah tidur. Tapi saya tidak khawatir soal kasih sayang. Yang terpenting adalah kualitas kehadiran dan komunikasi,” ujarnya.
Bagi Desy, ibu yang sukses bukan dalam ukuran finansial, melainkan dalam keberhasilan anak-anaknya.
Menutup wawancara, Desy menyampaikan pesan kuat kepada para ibu dan perempuan Indonesia:
“Semua ibu harus tetap kuat, tetap mencintai, tetap mendoakan anak-anaknya. Karena doa ibu itu tidak pernah kalah. Perempuan yang sukses itu bukan hanya hebat di luar, tapi juga hebat di rumah.”
Dengan kepemimpinannya di Woman Planner Palembang, pemikirannya tentang keluarga, serta komitmennya memberi dampak sosial, ArDesy Natalie berdiri sebagai salah satu ikon perempuan inspiratif di Sumatera Selatan mewakili sosok ibu modern yang kuat, cerdas, dan penuh kasih.











