BANYUASIN II — Kompaslink.com — Tradisi adat Sedekah Parit kembali menggema di tengah masyarakat pesisir Muara Sungsang.
Bukan sekadar ritual adat, kegiatan yang digelar warga Dusun 3 Sungai Batang, Desa Muara Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Senin (28/9/2026), menjadi momentum memperkuat rasa syukur sekaligus kebersamaan warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah berlangsungnya tradisi tersebut, Babinsa Koramil 430-02/Sungsang Kodim 0430/Banyuasin, Sertu J.T. Farid, hadir langsung bersama masyarakat.
Kehadiran Babinsa menjadi bentuk nyata kedekatan TNI dengan rakyat sekaligus dukungan terhadap upaya masyarakat dalam mempertahankan kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga Muara Sungsang.
Sedekah Parit dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil perkebunan, pertanian, dan tambak yang diperoleh masyarakat. Tradisi tersebut juga menjadi sarana doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan kebaikan bagi seluruh warga.
Ratusan masyarakat mengikuti kegiatan dengan penuh khidmat.
Turut hadir perwakilan Pemerintah Desa Muara Sungsang, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta unsur masyarakat lainnya.
Sertu J.T. Farid menegaskan bahwa pelestarian tradisi lokal merupakan bagian penting dalam menjaga kebersamaan masyarakat.
“Tradisi Sedekah Parit ini sangat baik. Selain sebagai bentuk rasa syukur, juga menjadi ajang silaturahmi warga. Sebagai Babinsa, saya wajib hadir dan mendukung kegiatan positif seperti ini,” ujar Sertu J.T. Farid.
Rangkaian kegiatan diisi dengan doa bersama, makan bersama, hingga prosesi larung sesaji ke parit sebagai simbol rasa syukur masyarakat.
Bagi warga, Sedekah Parit bukan hanya kegiatan tahunan, tetapi juga ruang untuk mempererat hubungan antarwarga dan menjaga warisan budaya agar tetap dikenal serta dilestarikan oleh generasi berikutnya.
Kehadiran Babinsa di tengah kegiatan tersebut semakin memperlihatkan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat dibangun bukan hanya melalui tugas keamanan, tetapi juga melalui kebersamaan dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Tradisi tetap hidup, kebersamaan terus tumbuh. Dari Muara Sungsang, kearifan lokal terus dijaga bersama.
(hamkah)













